Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhSalam dan bahagia,
Pada kesempatan
ini, saya Aris Yuliyanto CGP Angkatan 9 Kabupaten Gunungkidul dari SMP Negeri 1
Karangmojo ingin berbagi informasi tentang pembelajaran yang telah saya ikuti
dalam Pendidikan Guru Penggerak Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis
Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin.
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ”
Kutipan di atas
jika ditafsirkan adalah mengajarkan anak-anak keterampilan seperti matematika
dan literasi memang penting, tetapi lebih penting lagi untuk menanamkan
nilai-nilai moral dan kemanusiaan seperti kasih sayang, kejujuran, dan tanggung
jawab. Nilai-nilai ini akan membantu mereka menjadi individu yang baik dan
bertanggung jawab dalam masyarakat.
Dengan
demikian, pendidikan yang sebenarnya bukan sekedar mentransfer ilmu dari
seseorang ke orang lain. Namun, lebih daripada itu, pendidikan merupakan sarana
pembentukan karakter seseorang (murid). Pembentukan karakter (adab atau etika)
inilah yang paling utama. Pepatah arab mengatakan “Al adabu Fauqol ’ilmi” yang artinya adab itu lebih tinggi daripada
ilmu. Kalau hanya mengandalkan ilmu tanpa dibarengi adab, iblis lebih bisa.
Sebab iblis diberikan keistimewaan oleh Allah lebih pintar dari pada manusia.
Oleh karena itu, ilmu yang baik dengan dilandasi karakter (adab atau etika)
yang baik akan menjadikan murid meraih keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya.
Dalam proses
pembelajaran yang sedang saya pelajari saat ini, yaitu Pengambilan Keputusan
Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin, hal mendasar yang dipelajari
berkaitan dengan etika. Di mana etika yang bersumber dari nilai kebajikan
menjadi dasar dalam pengambilan keputusan seorang pendidik/pemimpin
pembelajaran yang berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pengambilan
keputusan oleh seorang pendidik/pemimpin pembelajaran berdasarkan nilai-nilai
dan prinsip yang dianut tentu akan berdampak terhadap lingkungannya. Beberapa
prinsip yang dianut, yaitu berpikir berbasis hasil akhir, peraturan, dan rasa
peduli. Di mana penerapannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang
dihadapi. Dengan menerapkan nilai dan prinsip yang sesuai, seorang
pendidik/pemimpin pembelajaran akan dapat mengambil keputusan yang tepat,
bijak, adil, dan berpihak pada murid. Hal ini tentu akan memberikan dampak
positif terhadap lingkungan.
Sebagai seorang
pemimpin pembelajaran, kita akan dihadapkan pada permasalahan dalam proses
pembelajaran murid, baik di dalam kelas maupun lingkungan sekolah secara
menyeluruh. Berkaitan dengan hal itu, dalam mengambil keputusan, seorang
pemimpin hendaklah dapat memberikan kontribusi, yaitu dengan kita peka terhadap
permasalahan yang ada kemudian mampu untuk mengatasi dengan solusi yang tepat,
berpihak pada murid, bersumber pada nilai-nilai kebajikan universal, dan
bertanggung jawab. Dengan demikian, secara tidak langsung kita sudah memberikan
contoh kepada murid cara pengambilan keputusan yang tepat dan adil.
Berkaitan
dengan beberapa penjelasan di atas tentang etika, ada kalimat bijak berikut
ini,
“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.” (Georg Wilhelm Friedrich Hegel).
Jika dikaitkan
dengan kutipan tersebut, proses pembelajaran yang saya alami pada modul ini
merupakan suatu proses memantapkan diri saya sebagai seorang pendidik/pemimpin
pembelajaran untuk lebih memahami pentingnya etika dalam dunia pendidikan.
Pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter
(adab atau etika). Generasi mendatang merupakan cerminan pendidikan saat ini.
Dengan memahami pentingnya etika, pendidik/pemimpin pembelajaran akan
menyelenggarakan pendidikan layaknya membuat maha karya terbaik untuk negeri
ini di masa depan.
Rangkuman Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
1.
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan
Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai
seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Semboyan KHD saat ini masih menjadi dasar para pendidik, yang pertama adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha. Dalam proses pengambilan keputusan, seorang pemimpin pembelajaran hendaknya dapat memberikan keteladanan kepada yang dipimpinnya, yaitu pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan berpihak pada murid. Semboyan kedua, Ing Madya Mangun Karsa. Keputusan yang telah diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran hendaknya dapat memberikan semangat kepada berbagai pihak untuk senantiasa menerapkan keberpihakan pada murid. Sementara pada semboyan kedua, Tut Wuri Handayani, seorang pemimpin pembelajaran haruslah mampu untuk mendorong berbagai pihak untuk mengambil keputusan yang tepat, adil, bertanggungjawab, berdasarkan nilai kebajikan, dan berpihak pada murid. Dengan demikian diharapkan akan dapat tercetak generasi cerdas dan berkarakter profil pelajar Pancasila.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri
kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan
suatu keputusan?
Nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil
dalam pengambilan suatu keputusan. Ketika nilai-nilai guru penggerak, yaitu
berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif, dan reflektif sudah
melekat dalam diri seorang guru/pemimpin pembelajaran, maka seorang pemimpin
pembelajaran akan dapat mengambil
keputusan yang tepat, adil, berpihak pada murid, dan dapat
dipertanggungjawabkan karena didasari dengan nilai-nilai kebajikan tersebut.
Selain itu, sebagai manusia yang beragama, kita yakin apapun yang kita lakukan,
kelak akan dimintai pertanggungjawaban, begitu pula dengan keputusan yang telah
kita ambil.
3. Bagaimana
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam
perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam
pengujian pengambilan keputusan yang telah
kita
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan
tersebut? Hal- hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Materi pengambilan
keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran kita tentunya sangat berpengaruh, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Kegiatan coaching yang dilakukan
telah menguatkan keterampilan coaching saya
sebagai seorang guru, sehingga hal ini akan membantu saya dalam mengambil
keputusan yang tepat. Pendampingan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) oleh fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran sangat efektif membentuk pemahaman saya, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan.
Teknik coaching dengan kesetaraan akan
menimbulkan rasa nyaman sehingga coach
mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot
dari coachee saat melakukan pengujian
keputusan. Di sisi lain, coachee
dapat menyampaikan hambatan-hambatan dan dapat menemukan solusi yang sesuai
dari dalam dirinya sendiri. Pada akhirnya guru dapat mengambil keputusan yang tepat.
4. Bagaimana kemampuan
guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh
terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari
aspek sosial emosionalnya akan sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu
keputusan khususnya masalah dilema etika. Guru yang mampu mengelola dan
menyadari aspek sosial emosionalnya akan memiliki kesadaran diri memahami
perasaan, emosi, dan nilai dirinya. Ia juga akan memiliki manajemen diri
sehingga mampu mengelola emosi dan perilakunya. Guru tersebut juga memiliki
kesadaran sosial sehingga mampu memandang dari sudut pandang orang lain dan
senantiasa berempati kepada orang lain. Ia pun memiliki keterampilan berelasi
sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif dalam mengambil keputusan.
Masalah dilema etika akan dihadapi dengan kepala dingin, tenang, dan bijak,
sehingga dapat menghasilkan keputusan yang tepat.
5. Bagaimana pembahasan
studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai
yang dianut seorang pendidik?
Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika akan semakin menguatkan nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik. Dengan membahas studi kasus tentang moral atau etika, maka semakin
mengasah keterampilan guru dalam mengidentifikasi masalah, memetakan paradigma
dilema etika dan menyelesaikannya, serta mengambil keputusan. Keputusan yang
diambil akan semakin tepat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir
kebutuhan murid dan menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak
berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.
6.
Bagaimana pengambilan
keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman?
Sebagai seorang pemimpin hendaknya dapat
mengambil keputusan yang tepat. Keputusan tepat tersebut tercipta karena adanya
keputusan yang berpihak pada murid, berdasar nilai-nilai kebajikan, dan dapat
dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, akan berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Dan pada akhirnya murid
dapat belajar dengan baik serta dapat mengembangkan kompetensinya.
7. Apakah
tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan
keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan
perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Pengambilan keputusan berlandaskan tiga prinsip
penyelesaian dilema, yaitu Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan
(Rule-Based Thinking), dan Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip tersebut disesuaikan
dengan kondisi masing-masing kasus. Namun,
setiap keputusan pasti ada resiko, pro dan kontra, ada yang suka dan ada yang
tidak suka. Hal ini tentunya menjadi salah satu tantangan. Adapun tantangan
yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
adalah tidak dapat memuaskan semua pihak. Hal tersebut tentu ada kaitannya
dengan perubahan paradigma di lingkungan saya, di mana seharusnya lebih
mengutamakan kepentingan bersama/kelompok dibandingkan individu.
8. Apakah pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk
potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita, yaitu kebebasan atau kemerdekaan murid dalam belajar. Untuk itulah,
setiap keputusan yang diambil harus senantiasa berpihak kepada murid. Setelah mendapatkan kemerdekaan dalam belajarnya, murid akan dapat mencapai kesuksesan, kebahagiaan sesuai dengan
minat dan potensinya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Hal ini
dapat dicapai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Di mana pada pembelajaran
diferensiasi, guru melakukan pembelajaran sesuai dengan potensi masing-masing
murid.
9. Bagaimana seorang
pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan
atau masa depan murid-muridnya?
Setiap pengambilan keputusan yang diambil oleh
seorang pemimpin pembelajaran akan berpengaruh pada kehidupan atau masa depan
murid-muridnya, baik dampak untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk
itu, pengambilan keputusan bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat,
benar dan bijak melalui pengujian benar salah menggunakan lima uji yaitu uji
legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola
akan menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak menyesatkan
murid-murid.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul
materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari
pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah
pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan yang harus dimiliki oleh guru
dan berlandaskan filosofi Ki Hajar Dewantara serta tetap berpegang teguh pada
nilai guru penggerak, di antaranya adalah berpihak pada murid. Seorang pemimpin
pembelajaran haruslah memiliki kompetensi sosial dan emosional agar dapat
mengambil keputusan dengan penuh kesadaran diri dan mengambil keputusan yang
bertanggung jawab. Teknik coaching sangat diperlukan saat pengujian keputusan
agar dapat menggali informasi atau fakta sebanyak-banyaknya, sehingga dapat
menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid karena pada akhirnya
keputusan tersebut akan berpengaruh pada masa depan murid. Pembelajaran diferensiasi merupakan salah
satu bentuk kemerdekaan belajar, karena dengan pembelajaran berdiferensiasi,
maka kebutuhan murid terpenuhi sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya
belajarnya.
11. Sejauh mana
pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma
pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Yang saya fahami dari konsep-konsep modul ini adalah bahwa dilema etika merupakan situasi pertentangan antara benar lawan benar. Sementara bujukan moral adalah situasi pertentangan antara benar lawan salah.
Dalam modul ini ada 4 paradigma pengambilan keputusan, yaitu:
·
Individu lawan kelompok (individual vs
community)
·
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs
mercy)
·
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
·
Jangka pendek lawan jangka panjang (short
term vs long term)
Ada juga 3 prinsip mengambil keputusan, yaitu:
●
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking)
●
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
● Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Selain itu, dipelajari pula tentang 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan, yaitu:
● Mengenali bahwa
ada nilai-nilai yang saling bertentangan
● Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi ini
● Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini
● Pengujian benar
atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji
panutan/idola)
● Pengujian
paradigma benar atau salah
● Prinsip
pengambilan keputusan
● Investigasi opsi trilema
● Buat keputusan
● Lihat lagi keputusan dan
refleksikan
Hal-hal yang menurut
saya diluar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan asal
memutuskan berdasarkan sesuai pemikiran saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3
prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selain itu, pengambilan
keputusan juga harus mempertimbangkan keberpihakan murid, berlandaskan
nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggungjawab.
12. Sebelum
mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana
pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di
modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini saya pernah
mengambil keputusan dengan situasi dilema etika. Namun, saya belum memahami bahwa
hal tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Dalam pengambilan
keputusan pun tidak mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan. Keputusan yang
saya ambil biasanya hanya berdasarkan regulasi dan untuk kepentingan orang
banyak. Dalam modul ini saya belajar teknik pengambilan keputusan dengan tepat
yang dimulai dari identifikasi kasus, penentuan paradigma, penerapan prinsip,
dan 9 langkah pengambilan keputusan.
13. Bagaimana
dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah
mengikuti pembelajaran modul ini?
Alhamdulilaah, banyak ilmu yang saya pelajari
dari modul ini dan InsyaAllah akan sangat bermanfaat untuk hari ini dan masa
yang akan datang. Sebelum bertemu dengan modul ini saya berpikir bahwa
pengambilan keputusan hanya berdasarkan regulasi dan untuk kepentingan orang
banyak saja. Ternyata banyak hal yang menjadi dasar, yaitu ada 4 paradigma
dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Ke depan saya akan berupaya menerapkan dalam setiap
pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran di kelas maupun di
sekolah serta dalam komunitas praktisi/organisasi profesi yang saya ikuti.
14. Seberapa
penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Mempelajari modul ini
sangat penting bagi diri saya sebagai individu maupun sebagai seorang pemimpin.
Di manapun kita berada, termasuk di lingkungan sekolah akan dihadapkan pada
keharusan untuk memutuskan sesuatu hal. Dengan mempelajari modul ini, saya
menjadi lebih mengetahui teknik-teknik pengambilan keputusan yang tepat,
bertanggungjawab, berlandaskan nilai-nilai kebajikan, dan berpihak pada murid.
Setelah mengetahui, kemudian berlatih untuk menerapkannya, maka akan
meningkatkan keterampilan saya dalam mengambil keputusan.
Demikian koneksi antar
materi yang saya paparkan. Saya menyadari masih sedikit ilmu yang saya miliki
untuk memahami materi pada modul ini. Untuk itu, kritik dan saran yang
membangun sangat saya harapkan.
Salam
Guru Penggerak,
Tergerak, bergerak dan
menggerakan.
Wassalaamu’alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh.



.jpg)




0 Komentar