Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

0UrnY7fpi2oeEkmaJmA4Rm0K9TxJ9F2-mTuQaiWEUOsMquyPDgtZ4fslHb8m2tfcnHv4OAxbdluLc55CJDXJjh4dTMo33dh4d-L31JmGoDRrQJTvv0BXnFkwmlhHV56D2zF1xN_Tse_q7z6zvhs0F7s

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


Salam dan bahagia,


Pada kesempatan ini saya, Aris Yuliyanto Calon Guru Penggerak Angkatan 9 Kabupaten Gunungkidul dari SMP Negeri 1 Karangmojo akan menyampaikan Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik. Pada jurnal refleksi kali ini saya menggunakan model Six Thinking Hats atau Teknik 6 Topi.


Topi Putih (Facts)

Pada dua minggu terakhir, awal minggu masih mempelajari Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional, yaitu alur Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Setelah itu, saya mempelajari modul berikutnya, yaitu Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik yang dimulai pada 17 November 2023.


Rangkaian kegiatan pada Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik adalah sebagai berikut:


17 November 2023; Mulai dari Diri dan Eksplorasi Konsep - Mandiri

Pada alur mulai diri Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik, CGP diminta merefleksikan pengalaman dan perasaan saat disupervisi oleh pimpinan, pengalaman.

18 November 2023; Lokakarya 3 

Pada awal mempelajari materi pada modul ini, kami mendapatkan undangan untuk mengikuti Lokakarya 3 yang bertempat di SMAN 1 Wonosari, Gunungkidul. Saya merasa senang karena bisa bertemu dengan teman CGP dan PP sehingga bisa saling berbagi pengalaman dan ilmu. Pada lokakarya ini kami belajar lebih dalam tentang penerapan Pembelajaran Sosial dan Emosional.

20-21 November 2023; Eksplorasi Konsep - Mandiri

Pada alur ini, saya mencoba memahami materi pada Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik. Dalam mempelajari materi ini membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk memahami, sehingga masih harus terus belajar setelah selesai alur ini.

22-23 November 2023; Eksplorasi Konsep - Forum Diskusi

Pada alur Eksplorasi Konsep - Forum Diskusi, saya melakukan diskusi dengan teman CGP maupun fasilitator. Di mana kami, CGP, berdiskusi tentang konsep coaching, paradigma berpikir dan prinsip coaching, kompetensi inti coaching, alur TIRTA, dan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching.

24 November 2023; Ruang Kolaborasi - Sesi 1

Pada alur ini, kami bertemu secara tatap mata mulai pukul 15.00. Pada ruang kolaborasi sesi 1 ini, saya berkesempatan untuk berlatih coaching bersama Ibu Anny Rochmayanti. Pengalaman pertama kalinya belajar coaching, sehingga masih perlu banyak berlatih.


Topi Merah

Sebelum mempelajari modul 2.3 ini saya beranggapan bahwa kegiatan supervisi adalah sesuatu yang mengerikan, karena supervisor pasti akan mencari kesalahan-kesalahan. Namun, setelah mempelajari modul ini, saya menjadi tahu bahwa supervisi akademik dapat dilakukan dengan teknik yang lebih dapat diterima oleh yang disupervisi, yaitu dengan paradigma berpikir Coaching. Dengan coaching, terasa bahwa coach mengajukan pertanyaan yang mendorong coachee menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan di benaknya.


Topi Kuning

Saya melihat banyak manfaat dari Coaching untuk Supervisi Akademik antara lain:

  • Meningkatkan motivasi guru untuk belajar dan mengembangkan diri. Coaching berfokus pada pemberdayaan guru untuk menemukan kekuatan dan potensi dirinya. Dengan demikian, guru akan lebih termotivasi untuk belajar dan mengembangkan diri.

  • Membantu guru untuk meningkatkan kompetensinya. Coaching dapat membantu guru untuk mengidentifikasi area-area yang perlu dikembangkan. Melalui proses coaching, guru akan mendapatkan bimbingan dan dukungan untuk meningkatkan kompetensinya.

  • Meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru yang kompeten akan dapat memberikan pembelajaran yang berkualitas. Coaching dapat membantu guru untuk menerapkan praktik pembelajaran yang berpusat pada murid.



Topi Hitam

Meskipun Coaching untuk Supervisi Akademik memiliki banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi, antara lain:

  • Keterampilan coach. Coaching merupakan keterampilan yang kompleks dan membutuhkan latihan terus menerus. Seorang coach yang baik harus memiliki keterampilan mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot, dan memberikan umpan balik yang konstruktif.

  • Kesiapan guru. Guru harus siap untuk belajar dan mengembangkan diri. Guru harus memiliki motivasi dan komitmen untuk terlibat dalam proses coaching.


Topi Hijau

Berikut adalah ide pengembangan Coaching untuk Supervisi Akademik:

  • Menjadikan coaching sebagai bagian integral dari budaya sekolah. Sekolah perlu menciptakan kultur sekolah yang mendukung pembelajaran dan pengembangan guru. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan coaching sebagai bagian dari program pengembangan profesional guru. 


Topi Biru

Setelah mempelajari modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik, saya menyimpulkan bahwa guru perlu berupaya lebih memahami secara mendalam dan terus berlatih coaching baik kepada rekan sejawat maupun murid. Terlebih sebelum melakukan pengembangan Coaching untuk supervisi akademik di lingkungan sekolah. 

Posting Komentar

0 Komentar